Author Archives: admin

Lake Toba clean???

Clean Up Danau Toba

POSTED BY PARAPAT NEWS POSTED ON 22.49 WITH NO COMMENTS
Sebuah kegiatan positif dilakukan oleh GMK Girsang Sipangan Bolon dalam rangka pembubaran panitia “Pawai Lilin” dan “Pohon Natal Terapung”.  GMK mengajak warga Parapat sekitarnya untuk melakukan bersih-bersih Danau Toba Parapat agar bersih dari berbagai sampah organik maupun anorganik. Kegiatan bersih-bersih ini diberi nama “Clean Up Danau Toba” dan merupakan rangkaian akhir dari “Pawai Lilin” dan “Pohon Natal Terapung”. Kegiatan bersih-bersih ini dilaksanakan Sabtu Pagi (11 Januari 2014) sebelum diadakan acara laporan pertanggung jawaban dan pembubaran panitia pada malam harinya.
Namun sangat disayangkan kegiatan ini kurang mendapat respon dari masyarakat dimana personel yang hadir tidak sampai 15 orang. Tidak dapat dipastikan alasan sepinya respon masyarakat tersebut apakah kegiatan ini kurang sosialisasi atau karena bertepatan dengan hari Sabtu yang merupakan aktifitas Pekan (Pokkan) terbesar di kota Parapat atau memang antusias warga yang kurang tertarik mengikuti kegiatan ini. Info tentang kegiatan ini memang disebar-luaskan melalui media social facebook dan dari mulut ke mulut. Namun walaupun jumlah relawan hanya berkisar puluhan orang, mereka tetap semangat dan itu sudah sangat berarti demi kelestarian Danau Toba.
Tim kecil bersih-bersih Danau Toba ini mulai bergerak dari Pantai Bebas Parapat dengan membawa peralatan jaring seadanya. Awalnya tim bersih-bersih ini menggunakan drum terapung berukuran kurang lebih 5 x 5 meter yang sebelumnya digunakan sebagai pondasi Pohon Natal Terapung. Cuaca cerah memberi semangat untuk mendayung “rakit raksasa” ini sembari menjaring sampah-sampah organik dan anorganik yang mengapung di Danau Toba menunggu kapal motor datang. Drum Terapung ini bergerak menyusuri tepi Pantai Bebas sampai ke pantai Hotel Siantar. Setelah kapal motor datang, tim pun bergerak menyusuri Pantai Hotel Bahari – Pantai Hotel Atsari – Pantai Tarabunga – Pantai Tamora – Pantai Kasih – Pantai Istana Presiden – Perairan Siburak-burak dan perairan Tiga Raja.
Tidak disangka-sangka ternyata sampah yang berada di Danau Toba sangat banyak. Sampah ini berasal dari tumbuhan yang berada di Danau Toba (eceng gondok dan lumut), sampah yang dibuang warga, sampah yang dibuang tamu, serpihan kayu, dan sampah yang dibawa arus sungai. Kesadaran masyarakat lokal maupun tamu sangat dibutuhkan untuk meminimalisir sampah yang berada di Danau Toba. Masyarakat yang bermukim di jalur aliran sungai juga hendaknya tidak membuang sampah ke jalur sungai, karena sampah-sampah ini akan terbawa arus menuju Danau Toba saat hujan dan saat sungai meluap. Pemerintah juga harus aktif memberi penyuluhan maupun menyediakan fasilitas untuk mengurangi masalah sampah ini. Kini Danau Toba butuh pertolongan dari kita semua, mari peduli walau sekecil apapun itu.
Sekitar pukul 15.00 WIB kapal motor yang digunakan mengangkut sampah dari Danau Toba ini kembali berlabuh ke Pantai Bebas Parapat untuk mengisi ulang bahan bakar minyak dan mengeluarkan sampah dari kapal. Sampah ini dikumpulkan di satu titik sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir. Tim relawan masih melanjutkan bersih-bersih tahap kedua pada pukul 15.30 WIB ke arah perairan Danau Toba Sualan dan perairan Batu Gantung. Setelah kegiatan ini selesai, sampah-sampah yang sudah terkumpul dibuang ke tempat pembuangan akhir menggunakan mobil pick-up. Malam harinya diadakan laporan pertanggung jawaban, pembubaran panitia, dan makan bersama. Kita semua berharap semoga kegiatan ini rutin dilakukan dan dapat menularkan semangat kepada orang lain untuk menjaga kelestarian Danau Toba.

Nommensen & the Toba War

– or: Maybe we didn’t eat the missionaries after all…

Uli Kozok translated Nommensens original manuscripts. Interesting. Here is a part of his article:

Lehmann’s biographical study of Ingwer Ludwig Nommensen, revered among the Batak as their apostle, is a work of limited academic use because it relies almost exclusively on three sources. Of roughly 320 citations quoted in the book, 186 refer to the Berichte der Rheinischen Missionsgesellschaft (BRMG)[i], the official journal of the Rhenish Mission Society, in which annual mission reports were published. The second-most important source includes the various publications of Nommensen’s colleague Johannes Warneck (1867-1944), who spent many years in Sumatra, first as a missionary teacher (1892-1905), and later as the successor of Nommensen as the bishop of the Batak church (1920-1932). Warneck’s publications are cited a total of 66 times. The original writings of Nommensen himself – mainly unpublished manuscripts from the archives of the Rhenish Missionary Society in Wuppertal – are Lehmann’s third major source and are cited 43 times. The other sources used are mainly mission publications such as theMissionsblatt, the Allgemeine Missionszeitschrift, and Rhoden’s Geschichte der Rheinischen Missionsgesellschaft (History of the Rhenish Missionary Society), which is cited 15 times. Read more »